Hati-hati dengan Gaya Hidupmu!


Ada sesuatu yang mudah sekali naik tetapi susah sekali turunnya. Apakah itu? Harga bahan makanan pokok? Bukan, walaupun terkadang bener juga sih, hehe. Tapi yang lebih tepat adalah life style alias gaya hidup.

Bukan sekali dua kali mendengar cerita kawan sesama pengusaha yang pada akhirnya usahanya gulung tikar karena dihantam oleh gaya hidupnya sendiri. Usaha masih baru, omzetnya baru naik 2 kali lipat bawaannya udah pengin nyicil rumah, beli mobil baru, atau liburan ke luar negeri. Hmm...

Kalau nyicil mobil tujuannya untuk semakin produktif dan bisa menggandakan keuntungan, it's okay. Tapi tidak, kebanyakan dari kita melakukannya hanya untuk terlihat sukses dan kaya. Duh!


Kondisi ini seringkali diperparah karena minimnya pengetahuan dan kemampuan kita untuk mengelola keuangan perusahaan. Sehingga pada akhirnya banyak dari kita yang tidak sadar bahwa sebagian hasil yang diperoleh sesungguhnya bukan milik kita. Bisa jadi itu modal atau mungkin hutang perusahaan yang lupa belum terbayarkan.

"Menunda kesenangan itu seperti menabung kesenangan untuk dinikmati di kemudian hari." (Kang Rendy Saputra, CEO Keke Busana)

Biasakan untuk menggaji diri sendiri sekalipun kita adalah pemilik dari usaha tersebut. Ambil secukupnya, sisanya gunakan untuk investasi ke perusahaan kita sendiri agar lebih cepat berkembang. Bagi saya pribadi, cara ini cukup ampuh untuk mengembangkan usaha sekaligus mengontrol gaya hidup.

Bagi kita yang menjadi pekerja pun sama, ambil gaji secukupnya, selebihnya gunakan untuk investasi di properti, emas, atau usaha orang lain.

"Hidup cuma sesaat, yang seharusnya kita besarkan adalah manfaat, bukan kepura-puraan kita agar terlihat hebat!" (Bahtera M. Adi, CEO Clothink)